PURWAKARTA , (RN).- SMAN 1 Purwakarta kini sudah tidak menjadi sekolah favorit lagi.
Bagaimana tidak, sekarang siswa-siswi SMAN 1 Purwakarta sudah berani membully gurunya.
Peran bidang kesiswaan dalam hal ini patut dipertanyakan kinerjanya. Siswa-siswi berani membully gurunya mungkin karena disebabkan anak kurang sentuhan, arahan, bimbingan dan perhatian, tidak ada langkah preventif dari kesiswaan.
Sementara itu, terkait kronologi kejadian, Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Purwanto, mengungkapkan bahwa insiden tersebut terjadi setelah siswa menyelesaikan pelajaran.
“Kronologinya mereka telah selesai pelajaran kebhinekaan, soal aneka makanan yang diolah oleh mereka berdasarkan penuturan kepala sekolah. Kemudian setelah itu terjadi aksi yang tidak terpuji dari anak-anak itu,” ujar Purwanto, beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, pihak sekolah langsung mengambil langkah dengan memanggil para siswa yang terlibat beserta orang tua mereka. Dari hasil pemanggilan tersebut, semua pihak mengakui kesalahan yang telah terjadi.
“Kemudian setelah itu anak-anak dipanggil, orang tua dipanggil, semua menyadari telah melakukan kesalahan, orang tuanya juga menyayangkan, anaknya menyesal ya kemudian sekolah melakukan langkah untuk pembinaan,” katanya.
Purwanto menyebut, kejadian itu berlangsung pada Kamis lalu dan melibatkan sembilan siswa dari kelas XI IPS. Aksi tersebut bahkan sempat direkam dan kemudian viral di media sosial.
“Kejadiannya itu hari Kamis kemarin. Itu kelas XI IPS. Ada 9 siswa yang melakukan,” ungkapnya.
Namun demikian, Disdik Jabar masih mendalami motif di balik tindakan para siswa tersebut. Hingga kini, alasan pasti mereka melakukan aksi tersebut belum diketahui.
“Kita belum dalami sampai ke situ, seperti apa alasannya kita belum. Itu lagi dialami sekolah,” ucapnya.
Ia menambahkan, insiden ini merupakan kejadian pertama di sekolah tersebut. Guru yang menjadi korban diketahui merupakan tenaga pengajar baru bernama Ibu Atum.
“Baru pertama kali, dan divideokan. Itu guru namanya Bu Atum kalau gak salah guru PKN, beliau guru baru di SMAN 1 Purwakarta,” katanya.
Sebagai langkah lanjutan, Disdik Jabar mendorong pendekatan pembinaan karakter terhadap para siswa. Hukuman tidak hanya bersifat sanksi, tetapi diarahkan untuk membentuk empati dan kedisiplinan.
“Iya anak-anak dilakukan pembinaan karakter, itu bisa dilatih lewat empati, disiplin dan disesuaikan dengan perkembangan mereka,” jelasnya.
Sedangkan terkait sanksi yang akan diberikan terhadap 9 siswa-siswi “nakal” ini, Humas SMAN 1 Purwakarta, Idha R mengatakan, kasus ini sudah ditangani oleh sekolah.
“Untuk sanksi kepada siswa sudah dilakukan sesuai dengan pedoman pendidikan karakter pancawaluya nomor 15942/PK.08.05/GTK dan turunan tata tertib yang dibuat oleh SMAN 1 Purwakarta,” katanya. (Vans)
